Minggu, 11 Januari 2026

Tiga Wasiat Untuk Kekasih Rasulullah (DZIKIR,SYUKUR,SEMPURNA BERIBADAH)

 
Tiga Wasiat Untuk Kekasih Rasulullah
By Ibnu AwiApril 30, 2020
NASKAH INI DISALIN PERSIS DARI https://www.attabiin.com/
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ». فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ. فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
 
Dari Mu’ad bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah pernah memegang tangannya, lantas bersabda, ‘Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, demi Allah, sesungguhya aku mencintaimu.’ Maka Mu’adzpun berkata kepada beliau, ‘Bapak dan ibuku sebagai tebusan-Mu ya Rasulullah, dan sayapun mencintai Anda.’ Maka beliau bersabda, ‘Kuwasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau meninggalkan pada setiap akhir shalat, Engkau membaca, ‘Ya Allah bantulah aku dalam berdzikir (mengingat)Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagusi ibadah(ku) kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)([1])
 
Tiga perkara yang Nabi mendorong Mu’adz radhiyallaahu ‘anhu untuk memohon pertolongan kepada Allah dalam merealisasikannya.
 
Perkara pertama, berdzikir mengingat Allah.
 
Sabda beliau ‘Ya Allah, bantulah aku.’ Adalah sebuah permohonan bantuan Allah, dan permohonan ini adalah sebuah ibadah. Dimana seorang muslim pada setiap rakaat akan membaca di dalamnya surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat,
 
ٱهدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلمُستَقِيمَ ٦
 
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah (1): 6)
 
Sementara yang dimaksud dengan dzikir adalah menggerakkan lisan dengan kalimat-kalimat yang kita beribadah kepada Allah dengannya; seperti Alhamdulillah, subhaanallaah, laa ilaaha illallaah, allaahu akbar, dan laa haula walaa quwwata illaa billaah.
 
Dzikir adalah ibadah yang paling mudah dan paling sulit!
 
Bagaimanakah yang demikian?
 
Paling mudah, karena ia tidak akan membebani Anda lebih dari menggerakkan lisan Anda dengannya, sementara yang sulit adalah terus menerus dan melanggengkannya. Dan yang seperti ini, tidak akan diberi taufiq oleh Allah kecuali orang-orang yang ikhlash.
 
Urusannya bukanlah Anda berdzikir menyebut asma Allah, namun urusannya adalah Anda melanggengkan dan memperbanyaknya. Dikarenakan Allah subhaanahu wata’aalaa telah berfirman tentang orang-orang munafiq,
 
وَلَا يَذكُرُونَ ٱللهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢
“… dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. an-Nisaa` (4): 142)
 
Adapun orang-orang mukmin, maka Allah telah memerintah mereka dengan firman-Nya,
 
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذكُرُواْ ٱللهَ ذِكرٗا كَثِيرٗا ٤١
 
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzaab (33): 41)
 
Jalan memperbanyak dzikir ada dua perkara;
 
Pertama, berdo’a agar Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk yang demikian sebagaimana yang ada di dalam hadits ini.
 
Kedua, mengenal keutamaannya, serta menempatkan jiwa di antara satu waktu dan lainnya untuk terus menerus di atas dzikir. Dan barangsiapa berjuang melawan nafsunya di dalamnya demikian, maka Allah akan memberikan taufiq kepadanya. Siapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan membuatnya bersabar, dan siapa yang jujur di dalam usahanya, maka Allah akan memberikan taufiq kepadanya.
 
Dan untuk menjelaskan keutamaan dzikir cukuplah dengan firman Allah subhaanahu wata’aalaa,
 
وَٱذكُرُواْ ٱللهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُم تُفلِحُونَ ١٠
 
“… dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah (62): 10)
 
Sementara keberuntungan memiliki dua rukun; teraihnya apa yang diharapkan, dan hilangnya apa yang ditakuti. Dan dzikir, mampu merealisasikan kedua perkara ini.
 
Perkara kedua; bersyukur.
 
Syukur adalah mengenal (mengakui, mengetahui) perbuatan baik.
 
Dan tatkala syukur itu memliki tiga rukun; yaitu mengakui nikmat dengan hati, membicarakannya serta memuji Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut, dan memanfaatkannya dalam mentaati Dzat yang telah memberi dan menganugerahkan nikmat tersebut, maka pantas bagi Allah untuk dimohonkan dari-Nya pertolongan bagi terlaksananya yang demikian. Maka –agar manusia menjadi orang yang bersyukur- harus mempergunakan nikmat apapun yang telah Allah anugerahkan kepadanya dalam mentaati-Nya. sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aalaa,
 
ٱعمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكرٗاۚ
 
“… beramallah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah)…” (QS. Saba` (34): 13)
Dan makna dari ayat tersebut adalah, ‘Wahai keluarga Dawud, beramallah kalian dalam rangka bersyukur kepada Allah atas segala hal yang telah Dia berikan kepada kalian; yang demikian itu dilakukan dengan mentaati-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya. Dan ini tidak akan ada kecuali dengan pertolongan dari sisi Allah subhaanahu wata’aalaa,
 
Perkara ketiga, bagusnya ibadah.
 
Ibadahnya tidak akan menjadi hasanah (baik, bagus) kecuali jika di dalamnya terpenuhi dua perkara; ikhlash dan ittiba’ (mengikuti sunnah) Nabi subhaanahu wata’aalaa.
 
Jika seorang hamba berbuat ikhlash di dalamnya ibadahnya, sementara ibadahnya tidak sesuai dengan ibadah Rasulullah , maka ibadah yang dia lakukan tertolak. Dan jika dia beribadah dengan mengikuti sunnah, namun ia tidak ikhlash, maka ibadahnya tidak akan diterima. Maka kedua perkara tersebut haruslah terkumpul pada setiap ibadah yang kita dirikan.
 
Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah pernah melihat seorang laki-laki shalat setelah subuh, maka diapun mengingkari laki-laki itu. Maka lelaki itu berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksa aku lantaran shalat?! Maka dia menjawab,
 
إِنَّ اللهَ لُا يُعَذِّبُ عَلَى الصَّلَاةِ، وَلَكِنْ عَذَّبَ عَلَى مُخَالَفَةِ السُّنَّةِ
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa lantaran shalat, akan tetapi Dia akan menyiksa lantaran menyelisihi sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqiy, ‘Abdurrazzaaq di dalam Mushannaf, dan ad-Darimiy)
 
Hadits (bab) ini telah menggabungkan antara ketaatan hati, lisan, dan anggota badan. Maka allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir (mengingat)Mu) adalah ketaatan lisan; wa syukrika (dan mensyukuri-Mu) adalah ketaatan hati; dan wahusni ‘ibaadatika (dan memperbagusi ibadahku kepada-Mu) adalah ketaatan anggota badan.
 
Termasuk di antara perkara yang ditunjukkan oleh hadits ini adalah keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu. Dimana Nabi telah bersabda tentangnya,
 
«وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ»
 
“Dan yang paling ‘alim (paling faqih) diantara mereka terhadap halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal.” (HR. at-Tirmidzi)([2])
 
Nabi juga bersabda tentangnya,
 
«مُعَاذُ بن جَبَلٍ أَمَامَ الْعُلَمَاءِ بِرَتْوَةٍ»
 
“Mu’adz bin Jabal berada di depan para ‘ulama satu kedudukan (sejauh lemparan anak panah([3])).” (HR. at-Thabraniy)([4]) yaitu dengan jarak lemparan batu.
 
Di antara faidah hadits ini,
 
Bahwasannya termasuk sunnah, jika seseorang mencintai saudaranya maka ia memberitahukan cintanya kepada saudaranya tersebut.
 
Nabi bersabda,
 
«إذا أحَبَّ الرجُلُ أخاهُ فَليُخبِرْهُ أنه يُحبُّه»
 
“Jika seseorang mencintai saudaranya, maka hendaknya dia mengabarkan kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)([5])
 
Dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, bahwasannya ada seorang laki-laki berada di sisi Nabi , kemudian lewatlah seorang laki-laki. Maka ia berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar mencintai laki-laki ini.’ maka Nabi bersabda,
 
«أَعْلَمْتَهُ»؟ قَالَ: لَا. قَالَ: «أَعْلِمْهُ». قَالَ: فَلَحِقَهُ فَقَالَ: إِنِّيْ أُحِبُّكَ فِيْ اللهِ. فَقَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِيْ فِيْهِ.
 
“Apakah Engkau telah memberitahu dia?’ Dia berkata, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Beritahu dia.’ Maka diapun menyusulnya, lantas berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Maka ia menjawab, ‘Mudah-mudahan Dzat yang karena-Nya Engkau mencintaiku, mencintaimu.’ (HR. Abu Dawud)([6])
 
Maka ungkapan yang manakah dari dua ungkapan yang dikatakan oleh orang yang dicintai? Ahabbakallaahu sebagaimana di dalam hadits ini, ataukah Wa ana uhibbuka fillaahi sebagaimana di dalam hadits Mu’adz?
 
Jawabannya adalah, kadang dikatakan, yang dicintai berkata kepada orang yang mencintainya karena Allah, ‘Ahabbakallaahulladzi ahbabtaniiy fiihi’ kecuali jika yang dicintai mencintai yang mencintainya, dan membalas cintainya, maka dia mengatakan, ‘Wa ana uhibbuka fillaahi’. Maka tidak ada masalah pada ucapan ini selagi ditemukan adanya sebagian dari para ulama kita yang mengatakannya.
 
Diantara faidahnya, Islam mendorong untuk saling mencintai dan menyayangi karena Allah. Maka sesungguhnya Nabi mencintai Mu’adz karena Allah, dan Nabi memberitahukannya kepada Mu’adz. Sementara pada diri Rasul kita terdapat suri tauladan yang baik bagi kita. Dan di antara arti penting yang demikian adalah bahwa hal ini akan berakibat tersebarnya cinta diantara kita.
 
Dan perhatikanlah buah yang demikian;
 
Maka cinta karena Allah adalah merupakan sebab untuk meraih cinta Allah subhaanahu wata’aalaa.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi ,
 
«أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ، قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»
 
“Bahwasannya seorang laki-laki menziarahi saudaranya di satu kampung lain. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya. Maka tatkala malaikat tersebut mendatanginya, dia berkata, ‘Kemanakah Engkau ingin (tuju)?’ Dia berkata, ‘Aku ingin (menuju) saudaraku di kampung ini.’ Malaikat berkata, ‘Apakah Engkau memiliki satu nikmat padanya yang hendak Engkau urus?’ Dia berkata, ‘Tidak, hanya saja sesungguhnya aku mencintainya karena Allah azza wajalla.’ Malaikat berkata, ‘Maka sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, dengan (mengabarkan kepadamu) bahwa Allah telah mencintimu sebagaimana Engkau mencintainya (saudaramu) karena-Nya.” (HR. Muslim)([7])
 
Cinta karena Allah adalah termasuk tanda jujurnya keimanan.
 
Nabi bersabda,
 
«أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ: الْحُبُّ فِيْ اللهِ وَالْبُغْضُ فِيْ اللهِ»
 
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. at-Thabraniy)([8])
 
Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda,
 
«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
 
“Ada tiga perkara, barangsiapa ketiga perkara tersebut ada padanya, maka dia akan mendapatkan manisnya iman; Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling dia cintai daripada selain keduanya; mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.”([9])
 
Dan termasuk diantara orang yang Allah akan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan-Nya adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah bersabda,
 
«إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: «أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي»
 
“Sesungguhnya Allah subhaanahu wata’aalaa akan berfirman pada hari kiamat, ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini, Aku akan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan-Ku, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.’ (HR. Muslim)([10])
 
Dan ia termasuk di antara tujuh golongan orang yang Allah akan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,
 
« وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ »
 
“Dan dua orang laki-laki yang kedua saling mencintai kerena Allah.” (HR. as-Syaikhani)([11])
 
Cinta karena Allah adalah jalan sorga.
 
Nabi kita telah bersabda,
 
«وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»
 
“Demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, kalian tidak akan masuk sorga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)([12])
 
Di antara faidah hadits adalah ketawadhu`-an Nabi .
 
Sungguh beliau telah mengambil tangan Mu’adz, lalu memberikan wasiat kepadanya, dan memberitakan kecintaan beliau kepadanya.
 
Di antara faidahnya, adalah bahwa cinta karena Allah haruslah mewariskan kecintaan kebaikan kepada orang yang dicintai, dan mencurahkan nasihat baginya. Dan jika tidak, maka ia hanyalah cinta yang tercurigai, dan bukan cinta yang karena Allah.
 
Tersisalah satu masalah terakhir; kapan do’a ini dibaca?
 
Kalimat duburnya sesuatu mengandung makna dua perkara; bahwasannya ia ada setelah sesuatu, atau di akhirnya sebelum selesainya. Maka dubur hewan -misalkan- adalah bagian belakangnya.
 
Maka kaidah tentang apa yang dikatakan dengan dubur shalat adalah jika yang disebut adalah berupa dzikir-dzikir, maka ia berada setelah salam. Dan jika yang disebut itu adalah do’a maka ia berada sebelum salam.
 
Maka Nabi biasa bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil setelah salam. Adapun sebelum salam, maka sungguh telah valid dari beliau banyak sekali do’a-do’a, Anda bisa meruju’nya di dalam Shifat Shalat Nabi , milik al-Albaniy.
 
Diantara dalil yang menguatkan hal ini adalah riwayat Imam Ahmad dan at-Thabraniy rahimahumallaah.
 
«فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
 
“Maka sesungguhnya aku memberimu wasiat beberapa kata, Engkau membaca kata-kata tersebut pada setiap shalat; allaahumma a’inniiy ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatika.’([13])
 
(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari Kitab Tsulatsiyaat Nabawiyah Syaikh Mihran Mahir ‘Utsman)
 
___________________________________
 
Footnote:
([1]) HR. Ahmad (22172), Abu Dawud (1522), Shahiih al-Jaami’ (7969), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (1596), al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (9/472)-pent
([2]) HR. at-Tirmidzi (3790,3791) dishahihkan oleh al-Albaniy dalam as-Shahiihah (1224)-pent
([3]) Lihat catatan kaki as-Siraaj al-Muniir Fii Tartiibi Ahaadiitsi Shahiih al-Jaami’ as-Shaghiir (2/701)-pent
([4]) HR. at-Thabrani dalam al-Kabiir (41), dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Shahiih al-Jaami’ (5880)-pent
([5]) HR. Abu Dawud (5124) Syaikh al-Arnauth berkata, ‘Sanadnya shahih.’ at-Tirmidzi (2392) dishahihkan oleh al-Albaniy, Ahmad (21332), Ibnul Mubaarok (1/247, no. 712), Shahiih al-Jaami’ (281), as-Shahiihah (797), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (12/3)-pent
([6]) HR. Abu Dawud (5125), Ahmad (13559), Ibnu Hibban (571), lihat as-Shahiihah (417), Shahiih Mawaarid az-Zham-aan (2131), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (12/4)-pent
([7]) HR. Muslim (2567), Ahmad (7906), Ibnu Hibban (572), al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/180)-pent
([8]) HR. at-Thabraniy (11537), Ahmad (18547), lihat Shahiih al-Jaami’ (2009), as-Shahiihah (998), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (4/48)-pent
([9]) HR. al-Bukhari (16), Muslim (43)-pent
([10]) HR. Muslim (2566), Ahmad (7230), Shahiih al-Jaami’ (1915), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (3011), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/496)-pent
([11]) HR. al-Bukhari (1357, 6421), Muslim (1031)-pent
([12]) HR. Muslim (54), at-Tirmidzi (2688), Shahiih al-Jaami’ (7081), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (2694), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (3/473)-pent
([13]) HR. Ahmad (22126), al-Arnauth berkata, ‘Sanadnya shahih.’-pent

Untuk lebih lengkapnya, Yuk baca artikel ini di website attabiin.com pada url:
https://www.attabiin.com/tiga-wasiat-untuk-kekasih-rasulullah-%EF%B7%BA/

Selasa, 06 Januari 2026

RIDO KEPADA ALLAH (PENGERTIAN, MANFAAT, HIKMAH ,DAMPAK DAN PESAN MORALNYA )

 

NASKAH PENGAJIAN ISLAMI ILMIAH

TOPIK: RIDO (RIDHA) KEPADA ALLAH

DISUSUN ULANG OLEH : WIWIN PURWOSETIONO






I. PENDAHULUAN

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menciptakan manusia, mengatur takdirnya, serta menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai keadaan: nikmat dan musibah, lapang dan sempit. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Tema rido kepada Allah adalah tema aqidah dan akhlak yang sangat mendasar. Ia menentukan kualitas iman, ketenangan jiwa, serta keselamatan hidup dunia dan akhirat.


II. PENGERTIAN RIDO KEPADA ALLAH

1. Pengertian Bahasa (Lughatan)

الرِّضَا berarti menerima dengan lapang dada, merasa cukup, tidak membenci dan tidak menolak.

2. Pengertian Istilah (Istilāḥan)

Rido kepada Allah adalah:

Menerima seluruh ketentuan Allah ﷻ—baik perintah, larangan, takdir, maupun keputusan-Nya—dengan hati yang tenang, tunduk, dan penuh keimanan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan:

Ridha adalah ketenangan hati terhadap aliran takdir.


III. AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG RIDO KEPADA ALLAH

1. QS. At-Taubah: 100

اَرْضَى اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ

Artinya:

“Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.”

Makna:
Puncak kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika Allah rida kepadanya dan ia pun rida kepada seluruh ketetapan Allah.


2. QS. Al-Fajr: 27–28

يٰٓأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Artinya:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai.”

Makna:
Orang yang rida kepada Allah akan wafat dalam keadaan jiwa yang tenang dan mulia.


3. QS. Al-Mā’idah: 119

رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya:

“Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”


IV. HADIS-HADIS SAHIH TENTANG RIDO KEPADA ALLAH

1. Hadis tentang rido sebagai tanda iman

رَضِيتُ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا

Artinya:

“Aku rida Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku.”

(HR. Muslim)


2. Hadis tentang rido dalam musibah

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Artinya:

“Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa yang rida, maka baginya keridaan Allah; siapa yang murka, maka baginya kemurkaan.”

(HR. Tirmidzi – hasan sahih)


V. LATAR BELAKANG / PENYEBAB KITA HARUS RIDO KEPADA ALLAH

  1. Allah Maha Mengetahui, manusia terbatas.

  2. Semua takdir Allah pasti mengandung hikmah.

  3. Dunia adalah tempat ujian, bukan tempat balasan.

  4. Rido adalah konsekuensi iman kepada qadha dan qadar.


VI. MANFAAT RIDO KEPADA ALLAH

  1. Hati tenang dan jiwa damai

  2. Terhindar dari stres dan putus asa

  3. Mendapat cinta dan rido Allah

  4. Hidup lebih bersyukur

  5. Kuat menghadapi ujian

  6. Husnul khatimah


VII. AKIBAT TIDAK RIDO KEPADA ALLAH

  1. Hati gelisah dan sempit

  2. Mudah marah dan menyalahkan takdir

  3. Jauh dari kebahagiaan

  4. Terancam murka Allah

  5. Lemah iman dan akhlak


VIII. CONTOH KASUS DAN PERISTIWA

1. Zaman Nabi ﷺ

Nabi Muhammad ﷺ di Thaif: dihina, dilempari batu, namun beliau tetap rida dan berdoa kebaikan.

2. Zaman Sahabat

Bilal bin Rabah r.a.: disiksa berat, tetap berkata Ahad… Ahad.

Umar bin Khattab r.a.: menerima takdir wabah Tha’un dengan penuh iman.

3. Zaman Kekinian

  • Orang kehilangan harta namun tetap bersyukur

  • Pasien penyakit berat tetap taat dan optimis

  • Keluarga diuji ekonomi tetapi tetap jujur dan sabar


IX. HIKMAH RIDO KEPADA ALLAH

  1. Membersihkan hati dari protes kepada Allah

  2. Meningkatkan kualitas iman

  3. Membentuk pribadi kuat dan dewasa

  4. Menghadirkan kebahagiaan hakiki


X. PESAN MORAL DARI AYAT DAN HADIS

  1. Jangan mengukur cinta Allah dengan materi

  2. Ujian bukan tanda kebencian Allah

  3. Rido adalah jalan kemuliaan

  4. Bahagia sejati berasal dari iman


XI. SIMPULAN

Rido kepada Allah adalah puncak iman, sumber ketenangan, dan kunci keselamatan dunia–akhirat. Orang yang rido akan dicintai Allah, hidupnya tenang, dan wafat dalam keadaan mulia.


XII. SARAN DAN PENUTUP

  1. Latih rido dengan memperbanyak dzikir dan doa

  2. Perkuat iman kepada qadha dan qadar

  3. Jadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keridaan setelah Engkau menetapkan takdir.”

Wallāhu a‘lam bisshawāb.



Alhamdulillah, naskah pengajian ilmiah durasi ±2 jam tentang Rido kepada Allah telah saya susun lengkap dan sistematis di canvas (dokumen di samping layar).

Ciri utama naskah ini:

  • 📖 Berbasis Al-Qur’an dan hadis sahih

  • 🕌 Ayat dan hadis berbahasa Arab berharakat + terjemahan

  • 🧠 Ilmiah namun tetap komunikatif untuk pengajian

  • ⏱️ Terstruktur untuk durasi ±2 jam

  • 🔍 Memuat:

    • Pengertian rido kepada Allah

    • Dalil Al-Qur’an dan hadis sahih

    • Latar belakang kewajiban rido

    • Manfaat dan akibat tidak rido

    • Contoh nyata (zaman Nabi, sahabat, dan kekinian)

    • Hikmah dan pesan moral

    • Simpulan dan saran penutup

    • Doa peneguh rido

Siap digunakan untuk:

  • Pengajian masjid

  • Kajian rutin

  • Materi khutbah atau dauroh

  • Bahan cetak atau PDF

Jika Bapak Ustad Wiwin Purwosetiono menghendaki:

  • ✏️ Disederhanakan untuk jamaah awam

  • 🎤 Disusun ulang menjadi teks ceramah lisan

  • 📄 Dibuatkan ringkasan handout 5–10 halaman

  • 🎥 Disesuaikan untuk konten dakwah video / YouTube

silakan sampaikan, insyaAllah saya bantu sampai tuntas.