Rabu, 11 Februari 2026

PENDALAMAN PEMAHAMAN TENTANG HIKMAH DALAM BERDAKWAH

 


PENDALAMAN PEMAHAMAN TENTANG HIKMAH

DALAM BERDAKWAH


Pengantar :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝١٢٥

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.

Catatan :

1.    Lewat ayat di atas, Allah menginstruksikan kepada setiap muslim untuk berdakwah (menyeru manusia ke jalan Tuhan ) dengan  : (a) hikmah, (b) pengajaran yang baik, (c) berdebat dengan cara yang baik

2.    Ini berarti tiap muslim (terutama kaum pendakwah) harus memiliki ilmu hikmah dan perilaku yang penuh hikmah

3.    Dalam berdakwah harus penuh hikmah (bukan emosional,grusa grusu, balas dendan pribadi, senitimen pribadi, iri, dengki, benci , melumpuhkan seseorang agar pamor kita terangkat, su’udzon dan perlaku buruk lainnya )

4.    Dalam berdakwah harus menggunakan metode pengajaran yang baik (merangkul -bukan memukul, memikat-bukan menyikat, merayu-bukan menipu, setulus hati-bukan membenci, husnudzon-bukan su’udzon, )

5.    Dalam berdakwah, pantang su’udzon tanpa penelitian terlebih dahulu.

6.    Sikap pendakwah idealnya berdasar penelitian (data & fakta yang akurat, bukti dan saksi  yang teruji, analisis tajam berdasar kecerdasan akal, kecerdasan, emosi dan kecerdasan spiritual ). Jangan keburu menuduh tanpa konfirmasi agar tidak dicatat oleh Allah sebagai  orang dzolim. Mengapa ?  Sebab : sesunguhnya pendengaran, penghlihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban              ( QS. Al-Isra ‘ :36)

 

7.    Dalam berdakwah usahakan mengubah benci jadi cinta, bukan sebaliknya

8.    Dalam berdakwah harus obyektif berdasar akal sehat , penelitian tajam yang didukung alquran dan hadis, serta bijak dan adil  

9.    Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. AL-MAIDAH : 8).

10.Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum , membuatmu tidak adil

11.Dalam berdakwah harus konsisten. Jika mengatakan A dilarang sebab begini dan begitu, maka kepada selain A juga harus berlaku sama. Jangan dalam suatu hal melarang A dengan alasan tertentu, tetapi kepada selain A, kita pilih kasih ( membiarkan bahkan mendukung)

12.Pendakwah dilarang munafik (emban cinde, emban siladan)

13.Dalam berdakwah , jangan keburu menilai seseorang sesat tak berguna. Sebab, bisa jadi orang yang kita nilai membahayakan islam dan umat islam, ternyata Allah menakdirkan dia lebih baik dalam berislam daripada kita . Ingatlah firman Allah:

·    اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝

·     Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.

14.   Lebih lanjut, mari kita pelajari pesan moral dalam QS. Albaqoroh : 269 )

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

 

1️ Makna Ayat Menurut Tafsir Muktabar

📖 Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hikmah mencakup:

  1. Pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an,
  2. Ilmu syar’i yang benar,
  3. Ketepatan dalam berbicara dan bertindak,
  4. Kebenaran dalam keyakinan dan amal.

Beliau menukil perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Al-hikmah adalah pengetahuan tentang Al-Qur’an, nasikh dan mansukh, halal dan haram, muhkam dan mutasyabih.”

📖 Tafsir Al-Jalalain

Hikmah diartikan sebagai:

  1. Ilmu yang bermanfaat,
  2. Fiqh dalam agama,
  3. Kebenaran dalam ucapan dan amal.

 

 

 

📖 Tafsir Ath-Thabari

Hikmah adalah:

“Pemahaman yang benar dalam agama dan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.”

Jadi, hikmah bukan sekadar kecerdasan, tetapi ilmu yang benar, dipahami dengan dalam, lalu diamalkan dengan tepat dan adil.


2️ Asbābun Nuzūl (Sebab Turun Ayat)

Menurut riwayat yang disebutkan oleh Imam Ath-Thabari dan Al-Wahidi, ayat ini turun dalam konteks pembahasan tentang infak dan pengelolaan harta (ayat-ayat sebelumnya).

 

Allah menjelaskan bahwa:

  1. Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan (QS 2:268),
  2. Allah menjanjikan ampunan dan karunia,
  3. Maka Allah memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki agar dapat memahami kebenaran dalam mengelola harta dan kehidupan.

 

Artinya, hikmah berkaitan erat dengan:

  • Keputusan finansial,
  • Sikap terhadap dunia,
  • Kemampuan membedakan bisikan setan dan janji Allah.

3️ Dalil Pendukung dari Hadis Shahih

Rasulullah bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ:

رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh iri kecuali pada dua hal:

seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia mengamalkannya

 dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari no. 73, Muslim no. 816 – Shahih)

 

Hadis ini menegaskan bahwa hikmah adalah:

  • Ilmu yang diamalkan,
  • Lalu disebarkan untuk kemaslahatan umat.

4️

 

 CONTOH AKTUALISASI HIKMAH DI ZAMAN MODERN

🔹 1. DALAM KEUANGAN SYARIAH

Orang yang berhikmah:

·       Tidak tergoda riba walau tampak menguntungkan,

·       Memilih investasi halal (sesuai fatwa DSN-MUI),

·       Mengelola harta dengan prinsip maqashid: menjaga harta (hifzh al-mal).

🔹 2. DALAM PARENTING ISLAMI

  • Mendidik anak dengan kasih sayang (QS. Luqman: 12–19),
  • Menanamkan tauhid sebelum dunia,
  • Menegur dengan lembut, bukan amarah.

 

🔹 3. DALAM MEDIA SOSIAL

  • Tidak menyebarkan hoaks (QS. Al-Hujurat: 6),
  • Menjaga lisan digital,
  • Menghindari debat tanpa ilmu.

 

🔹 4. DALAM DAKWAH

  • Menggunakan pendekatan:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
“Serulah (manusia) dengan hikmah.” (QS. An-Nahl: 125)


5️ HIKMAH (NILAI MAQASHID SYARIAH)

Ayat ini menjaga lima tujuan syariah:

1.    Hifzh ad-Din (menjaga agama) → dengan pemahaman benar.

2.    Hifzh al-‘Aql (menjaga akal) → dengan ilmu yang lurus.

3.    Hifzh al-Mal (menjaga harta) → dengan keputusan finansial yang benar.

4.    Hifzh an-Nafs (menjaga jiwa) → dengan kebijaksanaan dalam konflik.

5.    Hifzh an-Nasl (menjaga keturunan) → dengan pendidikan yang bijak.


6️ PESAN MORAL AYAT

1.    Hikmah adalah anugerah, bukan semata hasil kecerdasan.

2.    Tidak semua orang berilmu memiliki hikmah.

3.    Hikmah lebih berharga dari harta.

4.    Orang berakal (ulul albab) adalah yang mau mengambil pelajaran.

Allah menutup ayat dengan:

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Menandakan bahwa hikmah hanya dipahami oleh hati yang bersih dan akal yang jernih.


7️ SIMPULAN ILMIAH

1)    Hikmah adalah kombinasi ilmu syar’i, pemahaman mendalam, ketepatan dalam bertindak, dan keikhlasan.

2)    Ia merupakan “kebaikan yang banyak” karena mencakup keselamatan dunia dan akhirat.

3)    Hikmah menjadi fondasi kepemimpinan, pendidikan, ekonomi, dan dakwah.

4)    Ia diberikan Allah kepada hamba yang bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran.


8️ SARAN PRAKTIS UNTUK MERAIH HIKMAH

1.    📖 Mendalami Al-Qur’an dengan tafsir muktabar.

2.    📚 Belajar fiqh dari berbagai sumber yang sahih

3.    🧎 Memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ آتِنَا الْحِكْمَةَ
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami hikmah.”

4.    🤲 Menjaga hati dari riya dan hawa nafsu.

5.    👥 Berguru kepada ulama Ahlus Sunnah yang sanad ilmunya jelas.


🌿 PENUTUP RENUNGAN

1)       Hikmah bukan sekadar kepandaian berbicara, tetapi kemampuan melihat dunia dengan cahaya wahyu.

2)       Seseorang mungkin kaya harta, tetapi tanpa hikmah ia akan tersesat.

3)       Namun orang yang memiliki hikmah — walau sederhana hidupnya — ia telah memperoleh “kebaikan yang banyak.”

4)       Pendakwah atau Pimpinan Ormas Islam yang genar mengumbar kemarahan, memfitnah, menuduh tanpa bukti dan penelitian, atau membuka aib sesame aktifis dakwah di media social, itu bukan pendakwah yang ideal, bukan pemimpin ormas yang arif bijaksana

5)       Siapa nandur, bakal ngunduh

6)       Becik ketitik, ala ketara

7)       Siapa menabur angin, akan mneuai badai

8)       فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ

9)       وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

10)    Semoga Allah menjadikan kita termasuk ulul albab yang diberi cahaya hikmah dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.

 

Dikutip dari berbagai sumber dan diolah seperlunya

oleh Wiwin Purwosetiono

Banjarnegara, 12 Februari 2026

Jelang Romadhon 1447 H

 

 

Rabu, 04 Februari 2026

“RASULULLAH ﷺ SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

“RASULULLAH SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

 

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Segala puji bagi Allah yang mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

 

Hadirin rahimakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan kultum dengan tema : “Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.”

Tema ini sangat relevan, karena Islam sering disalahpahami sebagai agama konflik, padahal Rasulullah justru tampil sebagai arsitek perdamaian sejati, baik secara spiritual, sosial, maupun politik.

 

Hadirin, Rokhimakumullah

“Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.” Disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Anbya’ : 107 sebagai berikut :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad),

melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Hadirin,

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat risalah Nabi adalah Rahmat. Dan rahmat tidak mungkin lahir dari kekerasan, melainkan dari perdamaian, keadilan, dan kasih sayang.

 

Allah juga berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian

, maka condonglah pula kepadanya.”
(QS. Al-Anfāl: 61)

 

Ayat ini turun dalam konteks konflik, namun Allah justru memerintahkan Nabi untuk mengutamakan perdamaian.

 

 

Hadirin, Rokhimakumullah

 Berikut ini saya sampaikan Contoh Nyata Sejarah Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian:

1. Piagam Madinah: Perdamaian Multikultural

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tidak membangun negara dengan pedang, tetapi dengan konstitusi perdamaian, yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

 

Isinya antara lain:

  • Muslim, Yahudi, dan kabilah lain hidup berdampingan
  • Setiap kelompok dijamin kebebasan beragama
  • Konflik diselesaikan dengan hukum, bukan balas dendam

 

Ini menunjukkan Rasulullah adalah negarawan perdamaian, jauh sebelum konsep HAM modern lahir .

 

2. Perjanjian Hudaibiyah: Mengalah demi Perdamaian

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah :

·       Rela menghapus gelar “Rasulullah” dari dokumen

·       Menerima syarat yang tampak merugikan umat Islam


Namun Allah menurunkan firman:


إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Sesungguhnya Kami telah memberimu kemenangan

 yang nyata.”
(QS. Al-Fath: 1)

 


hikmahnya ?

Secara ilmiah dan strategis, perdamaian justru membuka ruang dakwah luas dan menghindari pertumpahan darah.

Pepatah Jawa menyatakan : “Wani Ngalah , Luhur Wekasane “ (Berani mengalah sebagai strategi, maka akan sukses jaya akhirnya)

 

Hadirin , Rokhimakumullah

Bukti Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian, yang ke 3 adalah :

Fathu Makkah( Rasulullah berhasil menaklukkan Kota Mekah ).

Saat itu, Rasulullah berkesempatan balas dendam untuk menghancurkan penduduk Mekah yang dulu memusuhi Rasul. Masyarakat Mekah sudah tak berdaya. Tetapi Rasulullah memilih untuk Memaafkan di Puncak Kemenangan. Rasulullah memilih Perdamaian Abadi , daripada Pamer Kekuasaan.

Saat Fathu Makkah, Rasulullah memiliki kekuatan penuh untuk membalas dendam. Namun beliau berkata:

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
“Pergilah, kalian semua bebas.”
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi,)

 

Inilah puncak perdamaian profetik:

menang tanpa menindas, berkuasa tanpa membalas dendam.

 

Hadirin Rohimakumullah

Berikut Adalah Hadis Sahih: Rasulullah Pembawa Damai

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat

 dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dan beliau juga bersabda:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim)

Salam bukan sekadar ucapan, tetapi deklarasi sosial perdamaian.

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Hikmah dari Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian antara lain :

1.    Perdamaian lebih kuat daripada kekerasan

2.    Mengalah demi maslahat ,itu lebih mulia daripada menang dengan dendam

3.    Dakwah yang efektif ,lahir dari keteladanan, bukan paksaan

4.    Kekuatan sejati adalah kemampuan memaafkan

 

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian , membawa Pesan Moral untuk Kehidupan Kekinian , agar kita :

  1. Jangan mudah mengkafirkan, memusuhi, dan membenci
  2. Utamakan dialog daripada konflik
  3. Jadilah penyejuk di tengah panasnya perbedaan
  4. Tampilkan Islam sebagai rahmat, bukan ancaman

 

SIMPULAN

Rasulullah Adalah Aktor Perdamaian Sejati:

  • Dalam dakwah → penuh hikmah
  • Dalam politik → menjunjung dialog
  • Dalam kemenangan → mengedepankan maaf
  • Dalam kehidupan sosial → menebar keselamatan
  • Islam hadir bukan untuk merusak, tetapi menata peradaban dengan damai.

 

SARAN

1.    Jadikan Rasulullah sebagai teladan dalam menyikapi konflik

2.    Dakwahkan Islam dengan akhlak dan keteladanan

3.    Bangun budaya damai di keluarga, masyarakat, dan media sosial

4.    Jangan lelah menjadi pembawa rahmat di tengah dunia yang gaduh

 

PENUTUP

Semoga Allah menjadikan kita umat yang meneladani Rasulullah sebagai duta perdamaian, bukan penyulut perpecahan.

 

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

 


Selasa, 03 Februari 2026

Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

 

Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan, pembeda antara kebenaran dan kesesatan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad
, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullāh,
Tema pengajian kita kali ini adalah “Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah”, sebuah tema yang sangat fundamental dalam Islam, karena agama ini berdiri di atas ilmu dan disebarkan dengan dakwah.


1. Kedudukan Ilmu dalam Islam

Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah shalat atau puasa, melainkan perintah membaca dan belajar.

Allah Ta‘ālā berfirman:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)

Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi seluruh amal. Tanpa ilmu, ibadah bisa salah arah, dan dakwah bisa menyesatkan.

Allah juga berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa iman yang disertai ilmu akan melahirkan kemuliaan di sisi Allah.


2. Pahala Mencari Ilmu Menurut Hadis Sahih

Rasulullah menjelaskan secara tegas tentang keutamaan mencari ilmu.

Beliau bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap langkah mencari ilmu bernilai ibadah dan menjadi sebab dimudahkannya jalan ke surga.

Bahkan, Rasulullah menyamakan kedudukan penuntut ilmu dengan makhluk-makhluk Allah lainnya:

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, sahih)

Secara ilmiah dan spiritual, ini menunjukkan bahwa aktivitas intelektual dalam Islam memiliki nilai transendental, bukan sekadar akademik.


3. Ilmu Harus Diamalkan dan Didakwahkan

Hadirin rahimakumullāh,
Ilmu dalam Islam bukan untuk disimpan, tetapi untuk diamalkan dan disampaikan. Inilah hakikat dakwah.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh?”
(QS. Fuṣṣilat: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang berbasis ilmu dan amal.

Rasulullah bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun satu ayat.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban dakwah sesuai kapasitas ilmunya.


4. Pahala Dakwah: Mengalir Tanpa Putus

Keutamaan dakwah bukan hanya pada saat dilakukan, tetapi pahalanya terus mengalir.

Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)

Lebih dari itu, dakwah termasuk amal jariyah. Rasulullah bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Ilmu yang diajarkan dan dakwah yang dilakukan akan terus menjadi pahala meskipun kita telah wafat.


5. Analisis Ilmiah dan Kontekstual

Secara ilmiah, masyarakat yang berilmu dan aktif berdakwah akan:

  1. Memiliki daya kritis terhadap kebatilan
  2. Mampu membangun peradaban beretika
  3. Menekan penyimpangan moral dan sosial

Inilah sebabnya Islam memadukan ilmu (knowledge) dan dakwah (transmission of values) sebagai pilar kebangkitan umat.


SIMPULAN

  1. Mencari ilmu adalah ibadah utama yang membuka jalan menuju surga.
  2. Ilmu dalam Islam harus diamalkan dan didakwahkan, bukan sekadar diketahui.
  3. Dakwah berbasis ilmu memiliki pahala besar dan berkelanjutan.
  4. Ilmu dan dakwah merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir hayat.

SARAN

  1. Jadikan menuntut ilmu sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban formal.
  2. Sampaikan ilmu dengan hikmah, akhlak, dan keteladanan, sesuai QS. An-Naḥl: 125.
  3. Mulailah dakwah dari hal yang sederhana: keluarga, lingkungan, dan media yang positif.
  4. Perkuat niat bahwa mencari ilmu dan berdakwah semata-mata mengharap ridha Allah, bukan popularitas.

Penutup

Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli ilmu yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, serta mengalirkan pahala kepada kita hingga hari kiamat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
والله أعلم بالصواب


SUMBER : CHAR GBT