Rabu, 04 Februari 2026

“RASULULLAH ﷺ SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

“RASULULLAH SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

 

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Segala puji bagi Allah yang mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

 

Hadirin rahimakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan kultum dengan tema : “Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.”

Tema ini sangat relevan, karena Islam sering disalahpahami sebagai agama konflik, padahal Rasulullah justru tampil sebagai arsitek perdamaian sejati, baik secara spiritual, sosial, maupun politik.

 

Hadirin, Rokhimakumullah

“Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.” Disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Anbya’ : 107 sebagai berikut :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad),

melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Hadirin,

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat risalah Nabi adalah Rahmat. Dan rahmat tidak mungkin lahir dari kekerasan, melainkan dari perdamaian, keadilan, dan kasih sayang.

 

Allah juga berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian

, maka condonglah pula kepadanya.”
(QS. Al-Anfāl: 61)

 

Ayat ini turun dalam konteks konflik, namun Allah justru memerintahkan Nabi untuk mengutamakan perdamaian.

 

 

Hadirin, Rokhimakumullah

 Berikut ini saya sampaikan Contoh Nyata Sejarah Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian:

1. Piagam Madinah: Perdamaian Multikultural

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tidak membangun negara dengan pedang, tetapi dengan konstitusi perdamaian, yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

 

Isinya antara lain:

  • Muslim, Yahudi, dan kabilah lain hidup berdampingan
  • Setiap kelompok dijamin kebebasan beragama
  • Konflik diselesaikan dengan hukum, bukan balas dendam

 

Ini menunjukkan Rasulullah adalah negarawan perdamaian, jauh sebelum konsep HAM modern lahir .

 

2. Perjanjian Hudaibiyah: Mengalah demi Perdamaian

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah :

·       Rela menghapus gelar “Rasulullah” dari dokumen

·       Menerima syarat yang tampak merugikan umat Islam


Namun Allah menurunkan firman:


إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Sesungguhnya Kami telah memberimu kemenangan

 yang nyata.”
(QS. Al-Fath: 1)

 


hikmahnya ?

Secara ilmiah dan strategis, perdamaian justru membuka ruang dakwah luas dan menghindari pertumpahan darah.

Pepatah Jawa menyatakan : “Wani Ngalah , Luhur Wekasane “ (Berani mengalah sebagai strategi, maka akan sukses jaya akhirnya)

 

Hadirin , Rokhimakumullah

Bukti Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian, yang ke 3 adalah :

Fathu Makkah( Rasulullah berhasil menaklukkan Kota Mekah ).

Saat itu, Rasulullah berkesempatan balas dendam untuk menghancurkan penduduk Mekah yang dulu memusuhi Rasul. Masyarakat Mekah sudah tak berdaya. Tetapi Rasulullah memilih untuk Memaafkan di Puncak Kemenangan. Rasulullah memilih Perdamaian Abadi , daripada Pamer Kekuasaan.

Saat Fathu Makkah, Rasulullah memiliki kekuatan penuh untuk membalas dendam. Namun beliau berkata:

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
“Pergilah, kalian semua bebas.”
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi,)

 

Inilah puncak perdamaian profetik:

menang tanpa menindas, berkuasa tanpa membalas dendam.

 

Hadirin Rohimakumullah

Berikut Adalah Hadis Sahih: Rasulullah Pembawa Damai

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat

 dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dan beliau juga bersabda:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim)

Salam bukan sekadar ucapan, tetapi deklarasi sosial perdamaian.

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Hikmah dari Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian antara lain :

1.    Perdamaian lebih kuat daripada kekerasan

2.    Mengalah demi maslahat ,itu lebih mulia daripada menang dengan dendam

3.    Dakwah yang efektif ,lahir dari keteladanan, bukan paksaan

4.    Kekuatan sejati adalah kemampuan memaafkan

 

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian , membawa Pesan Moral untuk Kehidupan Kekinian , agar kita :

  1. Jangan mudah mengkafirkan, memusuhi, dan membenci
  2. Utamakan dialog daripada konflik
  3. Jadilah penyejuk di tengah panasnya perbedaan
  4. Tampilkan Islam sebagai rahmat, bukan ancaman

 

SIMPULAN

Rasulullah Adalah Aktor Perdamaian Sejati:

  • Dalam dakwah → penuh hikmah
  • Dalam politik → menjunjung dialog
  • Dalam kemenangan → mengedepankan maaf
  • Dalam kehidupan sosial → menebar keselamatan
  • Islam hadir bukan untuk merusak, tetapi menata peradaban dengan damai.

 

SARAN

1.    Jadikan Rasulullah sebagai teladan dalam menyikapi konflik

2.    Dakwahkan Islam dengan akhlak dan keteladanan

3.    Bangun budaya damai di keluarga, masyarakat, dan media sosial

4.    Jangan lelah menjadi pembawa rahmat di tengah dunia yang gaduh

 

PENUTUP

Semoga Allah menjadikan kita umat yang meneladani Rasulullah sebagai duta perdamaian, bukan penyulut perpecahan.

 

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

 


Selasa, 03 Februari 2026

Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

 

Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan, pembeda antara kebenaran dan kesesatan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad
, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullāh,
Tema pengajian kita kali ini adalah “Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah”, sebuah tema yang sangat fundamental dalam Islam, karena agama ini berdiri di atas ilmu dan disebarkan dengan dakwah.


1. Kedudukan Ilmu dalam Islam

Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah shalat atau puasa, melainkan perintah membaca dan belajar.

Allah Ta‘ālā berfirman:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)

Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi seluruh amal. Tanpa ilmu, ibadah bisa salah arah, dan dakwah bisa menyesatkan.

Allah juga berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa iman yang disertai ilmu akan melahirkan kemuliaan di sisi Allah.


2. Pahala Mencari Ilmu Menurut Hadis Sahih

Rasulullah menjelaskan secara tegas tentang keutamaan mencari ilmu.

Beliau bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap langkah mencari ilmu bernilai ibadah dan menjadi sebab dimudahkannya jalan ke surga.

Bahkan, Rasulullah menyamakan kedudukan penuntut ilmu dengan makhluk-makhluk Allah lainnya:

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, sahih)

Secara ilmiah dan spiritual, ini menunjukkan bahwa aktivitas intelektual dalam Islam memiliki nilai transendental, bukan sekadar akademik.


3. Ilmu Harus Diamalkan dan Didakwahkan

Hadirin rahimakumullāh,
Ilmu dalam Islam bukan untuk disimpan, tetapi untuk diamalkan dan disampaikan. Inilah hakikat dakwah.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh?”
(QS. Fuṣṣilat: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang berbasis ilmu dan amal.

Rasulullah bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun satu ayat.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban dakwah sesuai kapasitas ilmunya.


4. Pahala Dakwah: Mengalir Tanpa Putus

Keutamaan dakwah bukan hanya pada saat dilakukan, tetapi pahalanya terus mengalir.

Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)

Lebih dari itu, dakwah termasuk amal jariyah. Rasulullah bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Ilmu yang diajarkan dan dakwah yang dilakukan akan terus menjadi pahala meskipun kita telah wafat.


5. Analisis Ilmiah dan Kontekstual

Secara ilmiah, masyarakat yang berilmu dan aktif berdakwah akan:

  1. Memiliki daya kritis terhadap kebatilan
  2. Mampu membangun peradaban beretika
  3. Menekan penyimpangan moral dan sosial

Inilah sebabnya Islam memadukan ilmu (knowledge) dan dakwah (transmission of values) sebagai pilar kebangkitan umat.


SIMPULAN

  1. Mencari ilmu adalah ibadah utama yang membuka jalan menuju surga.
  2. Ilmu dalam Islam harus diamalkan dan didakwahkan, bukan sekadar diketahui.
  3. Dakwah berbasis ilmu memiliki pahala besar dan berkelanjutan.
  4. Ilmu dan dakwah merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir hayat.

SARAN

  1. Jadikan menuntut ilmu sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban formal.
  2. Sampaikan ilmu dengan hikmah, akhlak, dan keteladanan, sesuai QS. An-Naḥl: 125.
  3. Mulailah dakwah dari hal yang sederhana: keluarga, lingkungan, dan media yang positif.
  4. Perkuat niat bahwa mencari ilmu dan berdakwah semata-mata mengharap ridha Allah, bukan popularitas.

Penutup

Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli ilmu yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, serta mengalirkan pahala kepada kita hingga hari kiamat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
والله أعلم بالصواب


SUMBER : CHAR GBT

Minggu, 25 Januari 2026

LIMA PESAN ALLAH DALAM SURAT AL-QOSHOSH AYAT 77

 

LIMA PESAN ALLAH DALAM SURAT AL-QOSHOSH AYAT 77

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

PESAN PERTAMA : CARILAH BEKAL  KEHIDUPAN AKHIRAT

Mengapa bekal kehidupan akhirat itu penting dan perlu ?

Sebab :

1.     Manusia pasti akan mati, bahkan bisa mati mendadak (annisa’ :78)

2.    Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal (Adduha :4, Al-A’la : 17)

 

BAGAIMANA CARA MENCARI KEBAHAGIAAN AKHIRAT ?

1.    RAJIN MENGAJI

·     مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ 

·       "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, no. 2699). 

 

2.    PAHAMI QURAN DAN HADIS à (AL-A’RAF :179)

3.    AMALKAN DENGAN IKLAS + ISTIQOMAHà (FUSILAT :30)

4.    DAKWAHKAN à (SURAT MUHAMMAD : 7)

5.    BERBUAT BAIK KEPADA ALLAH DAN MAKHLUKNYA

6.    BANYAK ISTIGHFAR DAN TAUBATAN NASUHA (ATTAHRIM :8)

 

PESAN ALLAH YANG KE DUA :

agar sukses dunia akhirat, perlu berbuat baik kepada Allah dan kepada sesama manusia.

وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ

Berbuat baiklah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (al-Qoshosh :77)

 

CARA BERBUAT BAIK KEPADA ALLAH :

1.     Mengimani Allah Haqqul Yaqin à Jangan Syirik,jangan riya’

2.    Tunduk Patuh Kepada Allah

3.    Banyak Beribadah  Kepada Allah

4.    Mengutamakan Allah Di Atas Segalanya

5.    Jihad Fi Sabilillah (Berani Berkurban Apa Saja, Demi Allah)

6.    Banyak Memuja Muji  Asma Allah, antara lain dengan berdzikir sbb :

(1)  Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘adziim

(2) Hasbnallah wanimal wakil, ni’mal maula wani’mal wakil

(3) Membaca 2 ayat terakhir surat albqoroh sebelum tidur

 

 

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

قَالَ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Hasbunallahu wa ni‘mal wakil diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api.”
(HR. Al-Bukhari no. 4563)

 

Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 173

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ

فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya:

“(Yaitu) orang-orang yang ketika dikatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya manusia telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka’, justru hal itu menambah iman mereka dan mereka berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.’”

 

Ibnu ‘Abbas berkata:

قَالَهَا مُحَمَّدٌ ﷺ حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ

“Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Muhammad ketika orang-orang mengatakan bahwa musuh telah berkumpul untuk menyerang.”
(HR. Al-Bukhari)

👉 Jadi kalimat yang sama diucapkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad , dalam konteks ancaman, ketakutan, dan ujian besar

 

Ibnu ‘Abbas berkata:

قَالَهَا مُحَمَّدٌ ﷺ حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ

“Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Muhammad ketika orang-orang mengatakan bahwa musuh telah berkumpul untuk menyerang.”
(HR. Al-Bukhari)

👉 Jadi kalimat yang sama diucapkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad , dalam konteks ancaman, ketakutan, dan ujian besar

 

MARI BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA MANUSIA DENGAN CARA :

1.     BERAHLAK BAIK

2.    BERDAKWAH UNTUK MENJAGA AKIDAH, IBADAH, AHLAK UMAT (SURAT MUHAMMAD : 7)

  1. MEMELIHARA ANAK YATIM, MENOLONG FAKIR MISKIN , DALIL :

(1)  QS.ALMA’UN :1-3)

·       HADIS

·       Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

·    « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

·       Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya Bukhari (no. 4998 dan 5659).

 

4.    BANYAK INFAK , SEDEKAH , ZAKAT, WAKAF (QS.ALMUNAFIQUN :10, ALBAQOROH : 261 , ALI IMRON 92 ),

 

PESAN ALLAH YANG KE TIGA : JANGAN BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI

1.     jangan merusak diri sendiri

2.    jangan merusak nama baik seseorang

3.    jangan merusak Nasib orang lain

4.    jangan merusak usaha orang lain

5.    jangan merusak rumah tangga orang lain

6.    jangan merusak lingkungan alam

 

 

KESIMPULAN :

1.     Manusia perlu mencari bekal kehidupan dunia dan akhirat, antara lain dengan berbuat baik kepada Allah dan kepada manusia, serta jangan berbuat ketusakan di bumi di bumi

2.    Kehidupan akhirat lebih utama dari pada kehidupan dunia, maka bekal mencari kebahagiaan akhirat harus segera dilakukan sekarang juga, sebab : kitab isa mati mendadak

 

SARAN :

Mari secepatnya kita mencaribekal untuk  kebahagiaan akhirat dan kebahagiaan dunia dengan memperbanyak amal Sholeh, meninggalkan amal salah

Minggu, 11 Januari 2026

Tiga Wasiat Untuk Kekasih Rasulullah (DZIKIR,SYUKUR,SEMPURNA BERIBADAH)

 
Tiga Wasiat Untuk Kekasih Rasulullah
By Ibnu AwiApril 30, 2020
NASKAH INI DISALIN PERSIS DARI https://www.attabiin.com/
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ: «يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ». فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ. فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
 
Dari Mu’ad bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah pernah memegang tangannya, lantas bersabda, ‘Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, demi Allah, sesungguhya aku mencintaimu.’ Maka Mu’adzpun berkata kepada beliau, ‘Bapak dan ibuku sebagai tebusan-Mu ya Rasulullah, dan sayapun mencintai Anda.’ Maka beliau bersabda, ‘Kuwasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah sekali-kali Engkau meninggalkan pada setiap akhir shalat, Engkau membaca, ‘Ya Allah bantulah aku dalam berdzikir (mengingat)Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagusi ibadah(ku) kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)([1])
 
Tiga perkara yang Nabi mendorong Mu’adz radhiyallaahu ‘anhu untuk memohon pertolongan kepada Allah dalam merealisasikannya.
 
Perkara pertama, berdzikir mengingat Allah.
 
Sabda beliau ‘Ya Allah, bantulah aku.’ Adalah sebuah permohonan bantuan Allah, dan permohonan ini adalah sebuah ibadah. Dimana seorang muslim pada setiap rakaat akan membaca di dalamnya surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat,
 
ٱهدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلمُستَقِيمَ ٦
 
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah (1): 6)
 
Sementara yang dimaksud dengan dzikir adalah menggerakkan lisan dengan kalimat-kalimat yang kita beribadah kepada Allah dengannya; seperti Alhamdulillah, subhaanallaah, laa ilaaha illallaah, allaahu akbar, dan laa haula walaa quwwata illaa billaah.
 
Dzikir adalah ibadah yang paling mudah dan paling sulit!
 
Bagaimanakah yang demikian?
 
Paling mudah, karena ia tidak akan membebani Anda lebih dari menggerakkan lisan Anda dengannya, sementara yang sulit adalah terus menerus dan melanggengkannya. Dan yang seperti ini, tidak akan diberi taufiq oleh Allah kecuali orang-orang yang ikhlash.
 
Urusannya bukanlah Anda berdzikir menyebut asma Allah, namun urusannya adalah Anda melanggengkan dan memperbanyaknya. Dikarenakan Allah subhaanahu wata’aalaa telah berfirman tentang orang-orang munafiq,
 
وَلَا يَذكُرُونَ ٱللهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢
“… dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. an-Nisaa` (4): 142)
 
Adapun orang-orang mukmin, maka Allah telah memerintah mereka dengan firman-Nya,
 
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذكُرُواْ ٱللهَ ذِكرٗا كَثِيرٗا ٤١
 
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzaab (33): 41)
 
Jalan memperbanyak dzikir ada dua perkara;
 
Pertama, berdo’a agar Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk yang demikian sebagaimana yang ada di dalam hadits ini.
 
Kedua, mengenal keutamaannya, serta menempatkan jiwa di antara satu waktu dan lainnya untuk terus menerus di atas dzikir. Dan barangsiapa berjuang melawan nafsunya di dalamnya demikian, maka Allah akan memberikan taufiq kepadanya. Siapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan membuatnya bersabar, dan siapa yang jujur di dalam usahanya, maka Allah akan memberikan taufiq kepadanya.
 
Dan untuk menjelaskan keutamaan dzikir cukuplah dengan firman Allah subhaanahu wata’aalaa,
 
وَٱذكُرُواْ ٱللهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُم تُفلِحُونَ ١٠
 
“… dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah (62): 10)
 
Sementara keberuntungan memiliki dua rukun; teraihnya apa yang diharapkan, dan hilangnya apa yang ditakuti. Dan dzikir, mampu merealisasikan kedua perkara ini.
 
Perkara kedua; bersyukur.
 
Syukur adalah mengenal (mengakui, mengetahui) perbuatan baik.
 
Dan tatkala syukur itu memliki tiga rukun; yaitu mengakui nikmat dengan hati, membicarakannya serta memuji Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut, dan memanfaatkannya dalam mentaati Dzat yang telah memberi dan menganugerahkan nikmat tersebut, maka pantas bagi Allah untuk dimohonkan dari-Nya pertolongan bagi terlaksananya yang demikian. Maka –agar manusia menjadi orang yang bersyukur- harus mempergunakan nikmat apapun yang telah Allah anugerahkan kepadanya dalam mentaati-Nya. sebagaimana firman Allah subhaanahu wata’aalaa,
 
ٱعمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكرٗاۚ
 
“… beramallah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah)…” (QS. Saba` (34): 13)
Dan makna dari ayat tersebut adalah, ‘Wahai keluarga Dawud, beramallah kalian dalam rangka bersyukur kepada Allah atas segala hal yang telah Dia berikan kepada kalian; yang demikian itu dilakukan dengan mentaati-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya. Dan ini tidak akan ada kecuali dengan pertolongan dari sisi Allah subhaanahu wata’aalaa,
 
Perkara ketiga, bagusnya ibadah.
 
Ibadahnya tidak akan menjadi hasanah (baik, bagus) kecuali jika di dalamnya terpenuhi dua perkara; ikhlash dan ittiba’ (mengikuti sunnah) Nabi subhaanahu wata’aalaa.
 
Jika seorang hamba berbuat ikhlash di dalamnya ibadahnya, sementara ibadahnya tidak sesuai dengan ibadah Rasulullah , maka ibadah yang dia lakukan tertolak. Dan jika dia beribadah dengan mengikuti sunnah, namun ia tidak ikhlash, maka ibadahnya tidak akan diterima. Maka kedua perkara tersebut haruslah terkumpul pada setiap ibadah yang kita dirikan.
 
Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah pernah melihat seorang laki-laki shalat setelah subuh, maka diapun mengingkari laki-laki itu. Maka lelaki itu berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksa aku lantaran shalat?! Maka dia menjawab,
 
إِنَّ اللهَ لُا يُعَذِّبُ عَلَى الصَّلَاةِ، وَلَكِنْ عَذَّبَ عَلَى مُخَالَفَةِ السُّنَّةِ
 
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa lantaran shalat, akan tetapi Dia akan menyiksa lantaran menyelisihi sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqiy, ‘Abdurrazzaaq di dalam Mushannaf, dan ad-Darimiy)
 
Hadits (bab) ini telah menggabungkan antara ketaatan hati, lisan, dan anggota badan. Maka allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir (mengingat)Mu) adalah ketaatan lisan; wa syukrika (dan mensyukuri-Mu) adalah ketaatan hati; dan wahusni ‘ibaadatika (dan memperbagusi ibadahku kepada-Mu) adalah ketaatan anggota badan.
 
Termasuk di antara perkara yang ditunjukkan oleh hadits ini adalah keutamaan Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu. Dimana Nabi telah bersabda tentangnya,
 
«وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ»
 
“Dan yang paling ‘alim (paling faqih) diantara mereka terhadap halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal.” (HR. at-Tirmidzi)([2])
 
Nabi juga bersabda tentangnya,
 
«مُعَاذُ بن جَبَلٍ أَمَامَ الْعُلَمَاءِ بِرَتْوَةٍ»
 
“Mu’adz bin Jabal berada di depan para ‘ulama satu kedudukan (sejauh lemparan anak panah([3])).” (HR. at-Thabraniy)([4]) yaitu dengan jarak lemparan batu.
 
Di antara faidah hadits ini,
 
Bahwasannya termasuk sunnah, jika seseorang mencintai saudaranya maka ia memberitahukan cintanya kepada saudaranya tersebut.
 
Nabi bersabda,
 
«إذا أحَبَّ الرجُلُ أخاهُ فَليُخبِرْهُ أنه يُحبُّه»
 
“Jika seseorang mencintai saudaranya, maka hendaknya dia mengabarkan kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)([5])
 
Dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, bahwasannya ada seorang laki-laki berada di sisi Nabi , kemudian lewatlah seorang laki-laki. Maka ia berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar mencintai laki-laki ini.’ maka Nabi bersabda,
 
«أَعْلَمْتَهُ»؟ قَالَ: لَا. قَالَ: «أَعْلِمْهُ». قَالَ: فَلَحِقَهُ فَقَالَ: إِنِّيْ أُحِبُّكَ فِيْ اللهِ. فَقَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِيْ فِيْهِ.
 
“Apakah Engkau telah memberitahu dia?’ Dia berkata, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Beritahu dia.’ Maka diapun menyusulnya, lantas berkata, ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Maka ia menjawab, ‘Mudah-mudahan Dzat yang karena-Nya Engkau mencintaiku, mencintaimu.’ (HR. Abu Dawud)([6])
 
Maka ungkapan yang manakah dari dua ungkapan yang dikatakan oleh orang yang dicintai? Ahabbakallaahu sebagaimana di dalam hadits ini, ataukah Wa ana uhibbuka fillaahi sebagaimana di dalam hadits Mu’adz?
 
Jawabannya adalah, kadang dikatakan, yang dicintai berkata kepada orang yang mencintainya karena Allah, ‘Ahabbakallaahulladzi ahbabtaniiy fiihi’ kecuali jika yang dicintai mencintai yang mencintainya, dan membalas cintainya, maka dia mengatakan, ‘Wa ana uhibbuka fillaahi’. Maka tidak ada masalah pada ucapan ini selagi ditemukan adanya sebagian dari para ulama kita yang mengatakannya.
 
Diantara faidahnya, Islam mendorong untuk saling mencintai dan menyayangi karena Allah. Maka sesungguhnya Nabi mencintai Mu’adz karena Allah, dan Nabi memberitahukannya kepada Mu’adz. Sementara pada diri Rasul kita terdapat suri tauladan yang baik bagi kita. Dan di antara arti penting yang demikian adalah bahwa hal ini akan berakibat tersebarnya cinta diantara kita.
 
Dan perhatikanlah buah yang demikian;
 
Maka cinta karena Allah adalah merupakan sebab untuk meraih cinta Allah subhaanahu wata’aalaa.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi ,
 
«أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ، قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»
 
“Bahwasannya seorang laki-laki menziarahi saudaranya di satu kampung lain. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya. Maka tatkala malaikat tersebut mendatanginya, dia berkata, ‘Kemanakah Engkau ingin (tuju)?’ Dia berkata, ‘Aku ingin (menuju) saudaraku di kampung ini.’ Malaikat berkata, ‘Apakah Engkau memiliki satu nikmat padanya yang hendak Engkau urus?’ Dia berkata, ‘Tidak, hanya saja sesungguhnya aku mencintainya karena Allah azza wajalla.’ Malaikat berkata, ‘Maka sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, dengan (mengabarkan kepadamu) bahwa Allah telah mencintimu sebagaimana Engkau mencintainya (saudaramu) karena-Nya.” (HR. Muslim)([7])
 
Cinta karena Allah adalah termasuk tanda jujurnya keimanan.
 
Nabi bersabda,
 
«أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ: الْحُبُّ فِيْ اللهِ وَالْبُغْضُ فِيْ اللهِ»
 
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. at-Thabraniy)([8])
 
Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda,
 
«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
 
“Ada tiga perkara, barangsiapa ketiga perkara tersebut ada padanya, maka dia akan mendapatkan manisnya iman; Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling dia cintai daripada selain keduanya; mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.”([9])
 
Dan termasuk diantara orang yang Allah akan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan-Nya adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah bersabda,
 
«إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: «أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي»
 
“Sesungguhnya Allah subhaanahu wata’aalaa akan berfirman pada hari kiamat, ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini, Aku akan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan-Ku, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.’ (HR. Muslim)([10])
 
Dan ia termasuk di antara tujuh golongan orang yang Allah akan memberikan naungan kepada mereka di bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya,
 
« وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ »
 
“Dan dua orang laki-laki yang kedua saling mencintai kerena Allah.” (HR. as-Syaikhani)([11])
 
Cinta karena Allah adalah jalan sorga.
 
Nabi kita telah bersabda,
 
«وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»
 
“Demi Dzat yang jiwaku ada pada tangan-Nya, kalian tidak akan masuk sorga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)([12])
 
Di antara faidah hadits adalah ketawadhu`-an Nabi .
 
Sungguh beliau telah mengambil tangan Mu’adz, lalu memberikan wasiat kepadanya, dan memberitakan kecintaan beliau kepadanya.
 
Di antara faidahnya, adalah bahwa cinta karena Allah haruslah mewariskan kecintaan kebaikan kepada orang yang dicintai, dan mencurahkan nasihat baginya. Dan jika tidak, maka ia hanyalah cinta yang tercurigai, dan bukan cinta yang karena Allah.
 
Tersisalah satu masalah terakhir; kapan do’a ini dibaca?
 
Kalimat duburnya sesuatu mengandung makna dua perkara; bahwasannya ia ada setelah sesuatu, atau di akhirnya sebelum selesainya. Maka dubur hewan -misalkan- adalah bagian belakangnya.
 
Maka kaidah tentang apa yang dikatakan dengan dubur shalat adalah jika yang disebut adalah berupa dzikir-dzikir, maka ia berada setelah salam. Dan jika yang disebut itu adalah do’a maka ia berada sebelum salam.
 
Maka Nabi biasa bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil setelah salam. Adapun sebelum salam, maka sungguh telah valid dari beliau banyak sekali do’a-do’a, Anda bisa meruju’nya di dalam Shifat Shalat Nabi , milik al-Albaniy.
 
Diantara dalil yang menguatkan hal ini adalah riwayat Imam Ahmad dan at-Thabraniy rahimahumallaah.
 
«فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
 
“Maka sesungguhnya aku memberimu wasiat beberapa kata, Engkau membaca kata-kata tersebut pada setiap shalat; allaahumma a’inniiy ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatika.’([13])
 
(Diterjemahkan oleh Muhammad Syahri dari Kitab Tsulatsiyaat Nabawiyah Syaikh Mihran Mahir ‘Utsman)
 
___________________________________
 
Footnote:
([1]) HR. Ahmad (22172), Abu Dawud (1522), Shahiih al-Jaami’ (7969), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (1596), al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (9/472)-pent
([2]) HR. at-Tirmidzi (3790,3791) dishahihkan oleh al-Albaniy dalam as-Shahiihah (1224)-pent
([3]) Lihat catatan kaki as-Siraaj al-Muniir Fii Tartiibi Ahaadiitsi Shahiih al-Jaami’ as-Shaghiir (2/701)-pent
([4]) HR. at-Thabrani dalam al-Kabiir (41), dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Shahiih al-Jaami’ (5880)-pent
([5]) HR. Abu Dawud (5124) Syaikh al-Arnauth berkata, ‘Sanadnya shahih.’ at-Tirmidzi (2392) dishahihkan oleh al-Albaniy, Ahmad (21332), Ibnul Mubaarok (1/247, no. 712), Shahiih al-Jaami’ (281), as-Shahiihah (797), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (12/3)-pent
([6]) HR. Abu Dawud (5125), Ahmad (13559), Ibnu Hibban (571), lihat as-Shahiihah (417), Shahiih Mawaarid az-Zham-aan (2131), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (12/4)-pent
([7]) HR. Muslim (2567), Ahmad (7906), Ibnu Hibban (572), al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/180)-pent
([8]) HR. at-Thabraniy (11537), Ahmad (18547), lihat Shahiih al-Jaami’ (2009), as-Shahiihah (998), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (4/48)-pent
([9]) HR. al-Bukhari (16), Muslim (43)-pent
([10]) HR. Muslim (2566), Ahmad (7230), Shahiih al-Jaami’ (1915), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (3011), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (7/496)-pent
([11]) HR. al-Bukhari (1357, 6421), Muslim (1031)-pent
([12]) HR. Muslim (54), at-Tirmidzi (2688), Shahiih al-Jaami’ (7081), Shahiih at-Targhiib wa at-Tarhiib (2694), lihat al-Jaami’ as-Shahiih li as-Sunan wa al-Masaanid (3/473)-pent
([13]) HR. Ahmad (22126), al-Arnauth berkata, ‘Sanadnya shahih.’-pent

Untuk lebih lengkapnya, Yuk baca artikel ini di website attabiin.com pada url:
https://www.attabiin.com/tiga-wasiat-untuk-kekasih-rasulullah-%EF%B7%BA/