Senin, 23 Maret 2026

BANYAK TERTAWA, MEMATIKAN HATI

 

BANYAK TERTAWA, MEMATIKAN HATI

Tentu. Hadis tentang banyak tertawa mematikan hati adalah nasihat penting agar seorang Muslim menjaga keseimbangan: boleh tersenyum dan bergembira, tetapi tidak larut dalam kelalaian.

Teks hadis

Arab
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ،

فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُميتُ الْقَلْبَ

Latin
Lā tuktsirū adh-dhahik, fa inna katsrata adh-dhahiki tumītul-qalb.

Terjemahan
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.”

Sumber dan derajat hadis

Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Sunan Ibnu Majah dan Sunan at-Tirmidzi dengan redaksi yang semakna. Para ulama menilai hadis ini hasan. Maknanya juga didukung oleh banyak nash dan atsar tentang pentingnya menjaga hati dari kelalaian.

Makna “mematikan hati”

Yang dimaksud bukan tertawa menjadikan seseorang mati secara fisik, dan bukan pula Islam melarang senyum atau kegembiraan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dikenal banyak tersenyum, lembut, dan wajah beliau cerah.

Makna “mematikan hati” adalah:

  • hati menjadi keras,
  • berkurang rasa khusyuk,
  • menipis rasa takut kepada Allah,
  • lemah dalam menerima nasihat,
  • dan mudah larut dalam lalai.

Jadi, yang dicela adalah berlebihan dalam tertawa, bercanda, dan hiburan sampai hati tidak lagi peka terhadap akhirat.

Bedanya senyum, tertawa, dan banyak tertawa

1. Senyum

Ini termasuk akhlak yang baik. Bahkan senyum kepada saudara Muslim bernilai sedekah.

2. Tertawa sewajarnya

Ini mubah selama tidak mengandung:

  • dusta,
  • ejekan,
  • penghinaan,
  • membuka aurat,
  • atau melalaikan kewajiban.

3. Banyak tertawa

Inilah yang diperingatkan dalam hadis. Karena sering kali menunjukkan:

  • hati terlalu tenggelam dalam dunia,
  • banyak bermain-main,
  • kurang tafakkur,
  • dan lemah muraqabah kepada Allah.

Penjelasan ulama secara makna

Para ulama menjelaskan bahwa terlalu banyak tertawa membuat hati sibuk dengan hal-hal lahiriah dan hiburan, sehingga cahaya hati melemah. Hati yang hidup biasanya mudah tersentuh oleh Al-Qur’an, nasihat, zikir, dan ingat mati. Adapun hati yang “mati” atau keras menjadi sulit menangis, sulit khusyuk, dan kurang peduli pada dosa.

Imam an-Nawawi ketika membahas adab, menjelaskan bahwa yang terpuji dari Nabi adalah banyak tersenyum dan tertawa seperlunya, bukan terbahak-bahak terus-menerus. Ini menunjukkan keseimbangan Islam.

Apakah tertawa itu dilarang?

Tidak. Islam bukan agama yang melarang kegembiraan. Yang dilarang adalah berlebihan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  • bercanda dengan benar,
  • tersenyum kepada para sahabat,
  • menghadirkan suasana hangat,
  • tetapi tidak menjadikan hidup sebagai permainan kosong.

Maka ukurannya adalah:
apakah tawa itu membuat hati lebih ringan untuk taat, atau justru menjauhkan dari Allah?

Bentuk “banyak tertawa” di zaman sekarang

Hadis ini sangat relevan hari ini, misalnya:

  • terlalu tenggelam dalam konten lucu tanpa batas,
  • candaan terus-menerus di grup atau media sosial,
  • humor yang meremehkan agama atau orang lain,
  • hidup yang isinya hiburan tetapi miskin zikir dan tafakkur.

Seseorang bisa tampak ceria di luar, tetapi batinnya kering dari iman bila seluruh waktunya habis untuk hiburan.

Hikmah hadis ini

Hadis ini mendidik kita agar:

  • menjaga keseimbangan jiwa,
  • tidak berlebihan dalam hiburan,
  • memperbanyak zikir dan tafakkur,
  • dan membiasakan hati ingat akhirat.

Dalam maqashid syariah, ini terkait dengan menjaga agama dan menjaga akal serta jiwa, karena hati yang hidup lebih mudah menerima kebenaran dan mengendalikan hawa nafsu.

Sikap yang benar

Sikap yang lurus adalah:

  • ramah tanpa berlebihan,
  • ceria tanpa lalai,
  • bercanda tanpa dusta,
  • tertawa tanpa mematikan hati.

Seorang Muslim idealnya wajahnya menyenangkan, tetapi hatinya tetap takut kepada Allah.

Ringkasan mudah

Hadis ini tidak melarang senyum atau tertawa biasa.
Yang diperingatkan adalah terlalu banyak tertawa karena itu bisa membuat hati:

  • keras,
  • lalai,
  • tidak khusyuk,
  • dan jauh dari ingat Allah.

Maka yang dianjurkan adalah senyum seperlunya, tawa secukupnya, zikir sebanyak-banyaknya.

Kalau Anda mau, saya bisa lanjutkan dengan syarah hadis ini gaya kajian 5 menit, atau saya buatkan dalil pembanding bahwa Nabi juga tersenyum dan bercanda dengan benar.

Sumber : KitabPedia, Selasa , 24 Maret 2026

 

CARA MUDAH MASUK SURGA LEWAT SURAT ALBAQARAH 128

 https://www.youtube.com/shorts/sumchhFlsds

CARA MUDAH MASUK SURGA LEWAT SURAT ALBAQARAH 128

https://youtube.com/shorts/sumchhFlsds?si=_zxJGZ8jsOMoaGRK

Rabu, 11 Februari 2026

PENDALAMAN PEMAHAMAN TENTANG HIKMAH DALAM BERDAKWAH

 


PENDALAMAN PEMAHAMAN TENTANG HIKMAH

DALAM BERDAKWAH


Pengantar :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝١٢٥

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.

Catatan :

1.    Lewat ayat di atas, Allah menginstruksikan kepada setiap muslim untuk berdakwah (menyeru manusia ke jalan Tuhan ) dengan  : (a) hikmah, (b) pengajaran yang baik, (c) berdebat dengan cara yang baik

2.    Ini berarti tiap muslim (terutama kaum pendakwah) harus memiliki ilmu hikmah dan perilaku yang penuh hikmah

3.    Dalam berdakwah harus penuh hikmah (bukan emosional,grusa grusu, balas dendan pribadi, senitimen pribadi, iri, dengki, benci , melumpuhkan seseorang agar pamor kita terangkat, su’udzon dan perlaku buruk lainnya )

4.    Dalam berdakwah harus menggunakan metode pengajaran yang baik (merangkul -bukan memukul, memikat-bukan menyikat, merayu-bukan menipu, setulus hati-bukan membenci, husnudzon-bukan su’udzon, )

5.    Dalam berdakwah, pantang su’udzon tanpa penelitian terlebih dahulu.

6.    Sikap pendakwah idealnya berdasar penelitian (data & fakta yang akurat, bukti dan saksi  yang teruji, analisis tajam berdasar kecerdasan akal, kecerdasan, emosi dan kecerdasan spiritual ). Jangan keburu menuduh tanpa konfirmasi agar tidak dicatat oleh Allah sebagai  orang dzolim. Mengapa ?  Sebab : sesunguhnya pendengaran, penghlihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban              ( QS. Al-Isra ‘ :36)

 

7.    Dalam berdakwah usahakan mengubah benci jadi cinta, bukan sebaliknya

8.    Dalam berdakwah harus obyektif berdasar akal sehat , penelitian tajam yang didukung alquran dan hadis, serta bijak dan adil  

9.    Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. AL-MAIDAH : 8).

10.Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum , membuatmu tidak adil

11.Dalam berdakwah harus konsisten. Jika mengatakan A dilarang sebab begini dan begitu, maka kepada selain A juga harus berlaku sama. Jangan dalam suatu hal melarang A dengan alasan tertentu, tetapi kepada selain A, kita pilih kasih ( membiarkan bahkan mendukung)

12.Pendakwah dilarang munafik (emban cinde, emban siladan)

13.Dalam berdakwah , jangan keburu menilai seseorang sesat tak berguna. Sebab, bisa jadi orang yang kita nilai membahayakan islam dan umat islam, ternyata Allah menakdirkan dia lebih baik dalam berislam daripada kita . Ingatlah firman Allah:

·    اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ۝

·     Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.

14.   Lebih lanjut, mari kita pelajari pesan moral dalam QS. Albaqoroh : 269 )

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

 

1️ Makna Ayat Menurut Tafsir Muktabar

📖 Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hikmah mencakup:

  1. Pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an,
  2. Ilmu syar’i yang benar,
  3. Ketepatan dalam berbicara dan bertindak,
  4. Kebenaran dalam keyakinan dan amal.

Beliau menukil perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Al-hikmah adalah pengetahuan tentang Al-Qur’an, nasikh dan mansukh, halal dan haram, muhkam dan mutasyabih.”

📖 Tafsir Al-Jalalain

Hikmah diartikan sebagai:

  1. Ilmu yang bermanfaat,
  2. Fiqh dalam agama,
  3. Kebenaran dalam ucapan dan amal.

 

 

 

📖 Tafsir Ath-Thabari

Hikmah adalah:

“Pemahaman yang benar dalam agama dan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.”

Jadi, hikmah bukan sekadar kecerdasan, tetapi ilmu yang benar, dipahami dengan dalam, lalu diamalkan dengan tepat dan adil.


2️ Asbābun Nuzūl (Sebab Turun Ayat)

Menurut riwayat yang disebutkan oleh Imam Ath-Thabari dan Al-Wahidi, ayat ini turun dalam konteks pembahasan tentang infak dan pengelolaan harta (ayat-ayat sebelumnya).

 

Allah menjelaskan bahwa:

  1. Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan (QS 2:268),
  2. Allah menjanjikan ampunan dan karunia,
  3. Maka Allah memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki agar dapat memahami kebenaran dalam mengelola harta dan kehidupan.

 

Artinya, hikmah berkaitan erat dengan:

  • Keputusan finansial,
  • Sikap terhadap dunia,
  • Kemampuan membedakan bisikan setan dan janji Allah.

3️ Dalil Pendukung dari Hadis Shahih

Rasulullah bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ:

رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh iri kecuali pada dua hal:

seseorang yang Allah beri hikmah, lalu ia mengamalkannya

 dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari no. 73, Muslim no. 816 – Shahih)

 

Hadis ini menegaskan bahwa hikmah adalah:

  • Ilmu yang diamalkan,
  • Lalu disebarkan untuk kemaslahatan umat.

4️

 

 CONTOH AKTUALISASI HIKMAH DI ZAMAN MODERN

🔹 1. DALAM KEUANGAN SYARIAH

Orang yang berhikmah:

·       Tidak tergoda riba walau tampak menguntungkan,

·       Memilih investasi halal (sesuai fatwa DSN-MUI),

·       Mengelola harta dengan prinsip maqashid: menjaga harta (hifzh al-mal).

🔹 2. DALAM PARENTING ISLAMI

  • Mendidik anak dengan kasih sayang (QS. Luqman: 12–19),
  • Menanamkan tauhid sebelum dunia,
  • Menegur dengan lembut, bukan amarah.

 

🔹 3. DALAM MEDIA SOSIAL

  • Tidak menyebarkan hoaks (QS. Al-Hujurat: 6),
  • Menjaga lisan digital,
  • Menghindari debat tanpa ilmu.

 

🔹 4. DALAM DAKWAH

  • Menggunakan pendekatan:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
“Serulah (manusia) dengan hikmah.” (QS. An-Nahl: 125)


5️ HIKMAH (NILAI MAQASHID SYARIAH)

Ayat ini menjaga lima tujuan syariah:

1.    Hifzh ad-Din (menjaga agama) → dengan pemahaman benar.

2.    Hifzh al-‘Aql (menjaga akal) → dengan ilmu yang lurus.

3.    Hifzh al-Mal (menjaga harta) → dengan keputusan finansial yang benar.

4.    Hifzh an-Nafs (menjaga jiwa) → dengan kebijaksanaan dalam konflik.

5.    Hifzh an-Nasl (menjaga keturunan) → dengan pendidikan yang bijak.


6️ PESAN MORAL AYAT

1.    Hikmah adalah anugerah, bukan semata hasil kecerdasan.

2.    Tidak semua orang berilmu memiliki hikmah.

3.    Hikmah lebih berharga dari harta.

4.    Orang berakal (ulul albab) adalah yang mau mengambil pelajaran.

Allah menutup ayat dengan:

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Menandakan bahwa hikmah hanya dipahami oleh hati yang bersih dan akal yang jernih.


7️ SIMPULAN ILMIAH

1)    Hikmah adalah kombinasi ilmu syar’i, pemahaman mendalam, ketepatan dalam bertindak, dan keikhlasan.

2)    Ia merupakan “kebaikan yang banyak” karena mencakup keselamatan dunia dan akhirat.

3)    Hikmah menjadi fondasi kepemimpinan, pendidikan, ekonomi, dan dakwah.

4)    Ia diberikan Allah kepada hamba yang bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran.


8️ SARAN PRAKTIS UNTUK MERAIH HIKMAH

1.    📖 Mendalami Al-Qur’an dengan tafsir muktabar.

2.    📚 Belajar fiqh dari berbagai sumber yang sahih

3.    🧎 Memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ آتِنَا الْحِكْمَةَ
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami hikmah.”

4.    🤲 Menjaga hati dari riya dan hawa nafsu.

5.    👥 Berguru kepada ulama Ahlus Sunnah yang sanad ilmunya jelas.


🌿 PENUTUP RENUNGAN

1)       Hikmah bukan sekadar kepandaian berbicara, tetapi kemampuan melihat dunia dengan cahaya wahyu.

2)       Seseorang mungkin kaya harta, tetapi tanpa hikmah ia akan tersesat.

3)       Namun orang yang memiliki hikmah — walau sederhana hidupnya — ia telah memperoleh “kebaikan yang banyak.”

4)       Pendakwah atau Pimpinan Ormas Islam yang genar mengumbar kemarahan, memfitnah, menuduh tanpa bukti dan penelitian, atau membuka aib sesame aktifis dakwah di media social, itu bukan pendakwah yang ideal, bukan pemimpin ormas yang arif bijaksana

5)       Siapa nandur, bakal ngunduh

6)       Becik ketitik, ala ketara

7)       Siapa menabur angin, akan mneuai badai

8)       فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ

9)       وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

10)    Semoga Allah menjadikan kita termasuk ulul albab yang diberi cahaya hikmah dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.

 

Dikutip dari berbagai sumber dan diolah seperlunya

oleh Wiwin Purwosetiono

Banjarnegara, 12 Februari 2026

Jelang Romadhon 1447 H

 

 

Rabu, 04 Februari 2026

“RASULULLAH ﷺ SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

“RASULULLAH SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

 

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Segala puji bagi Allah yang mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

 

Hadirin rahimakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan kultum dengan tema : “Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.”

Tema ini sangat relevan, karena Islam sering disalahpahami sebagai agama konflik, padahal Rasulullah justru tampil sebagai arsitek perdamaian sejati, baik secara spiritual, sosial, maupun politik.

 

Hadirin, Rokhimakumullah

“Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.” Disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Anbya’ : 107 sebagai berikut :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad),

melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Hadirin,

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat risalah Nabi adalah Rahmat. Dan rahmat tidak mungkin lahir dari kekerasan, melainkan dari perdamaian, keadilan, dan kasih sayang.

 

Allah juga berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian

, maka condonglah pula kepadanya.”
(QS. Al-Anfāl: 61)

 

Ayat ini turun dalam konteks konflik, namun Allah justru memerintahkan Nabi untuk mengutamakan perdamaian.

 

 

Hadirin, Rokhimakumullah

 Berikut ini saya sampaikan Contoh Nyata Sejarah Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian:

1. Piagam Madinah: Perdamaian Multikultural

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tidak membangun negara dengan pedang, tetapi dengan konstitusi perdamaian, yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

 

Isinya antara lain:

  • Muslim, Yahudi, dan kabilah lain hidup berdampingan
  • Setiap kelompok dijamin kebebasan beragama
  • Konflik diselesaikan dengan hukum, bukan balas dendam

 

Ini menunjukkan Rasulullah adalah negarawan perdamaian, jauh sebelum konsep HAM modern lahir .

 

2. Perjanjian Hudaibiyah: Mengalah demi Perdamaian

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah :

·       Rela menghapus gelar “Rasulullah” dari dokumen

·       Menerima syarat yang tampak merugikan umat Islam


Namun Allah menurunkan firman:


إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Sesungguhnya Kami telah memberimu kemenangan

 yang nyata.”
(QS. Al-Fath: 1)

 


hikmahnya ?

Secara ilmiah dan strategis, perdamaian justru membuka ruang dakwah luas dan menghindari pertumpahan darah.

Pepatah Jawa menyatakan : “Wani Ngalah , Luhur Wekasane “ (Berani mengalah sebagai strategi, maka akan sukses jaya akhirnya)

 

Hadirin , Rokhimakumullah

Bukti Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian, yang ke 3 adalah :

Fathu Makkah( Rasulullah berhasil menaklukkan Kota Mekah ).

Saat itu, Rasulullah berkesempatan balas dendam untuk menghancurkan penduduk Mekah yang dulu memusuhi Rasul. Masyarakat Mekah sudah tak berdaya. Tetapi Rasulullah memilih untuk Memaafkan di Puncak Kemenangan. Rasulullah memilih Perdamaian Abadi , daripada Pamer Kekuasaan.

Saat Fathu Makkah, Rasulullah memiliki kekuatan penuh untuk membalas dendam. Namun beliau berkata:

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
“Pergilah, kalian semua bebas.”
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi,)

 

Inilah puncak perdamaian profetik:

menang tanpa menindas, berkuasa tanpa membalas dendam.

 

Hadirin Rohimakumullah

Berikut Adalah Hadis Sahih: Rasulullah Pembawa Damai

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat

 dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dan beliau juga bersabda:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim)

Salam bukan sekadar ucapan, tetapi deklarasi sosial perdamaian.

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Hikmah dari Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian antara lain :

1.    Perdamaian lebih kuat daripada kekerasan

2.    Mengalah demi maslahat ,itu lebih mulia daripada menang dengan dendam

3.    Dakwah yang efektif ,lahir dari keteladanan, bukan paksaan

4.    Kekuatan sejati adalah kemampuan memaafkan

 

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian , membawa Pesan Moral untuk Kehidupan Kekinian , agar kita :

  1. Jangan mudah mengkafirkan, memusuhi, dan membenci
  2. Utamakan dialog daripada konflik
  3. Jadilah penyejuk di tengah panasnya perbedaan
  4. Tampilkan Islam sebagai rahmat, bukan ancaman

 

SIMPULAN

Rasulullah Adalah Aktor Perdamaian Sejati:

  • Dalam dakwah → penuh hikmah
  • Dalam politik → menjunjung dialog
  • Dalam kemenangan → mengedepankan maaf
  • Dalam kehidupan sosial → menebar keselamatan
  • Islam hadir bukan untuk merusak, tetapi menata peradaban dengan damai.

 

SARAN

1.    Jadikan Rasulullah sebagai teladan dalam menyikapi konflik

2.    Dakwahkan Islam dengan akhlak dan keteladanan

3.    Bangun budaya damai di keluarga, masyarakat, dan media sosial

4.    Jangan lelah menjadi pembawa rahmat di tengah dunia yang gaduh

 

PENUTUP

Semoga Allah menjadikan kita umat yang meneladani Rasulullah sebagai duta perdamaian, bukan penyulut perpecahan.

 

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.