Rabu, 04 Februari 2026

“RASULULLAH ﷺ SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

“RASULULLAH SEORANG AKTOR PERDAMAIAN”

 

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Segala puji bagi Allah yang mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah , keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

 

Hadirin rahimakumullāh,

Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan kultum dengan tema : “Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.”

Tema ini sangat relevan, karena Islam sering disalahpahami sebagai agama konflik, padahal Rasulullah justru tampil sebagai arsitek perdamaian sejati, baik secara spiritual, sosial, maupun politik.

 

Hadirin, Rokhimakumullah

“Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian.” Disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Anbya’ : 107 sebagai berikut :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad),

melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Hadirin,

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat risalah Nabi adalah Rahmat. Dan rahmat tidak mungkin lahir dari kekerasan, melainkan dari perdamaian, keadilan, dan kasih sayang.

 

Allah juga berfirman:

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Jika mereka condong kepada perdamaian

, maka condonglah pula kepadanya.”
(QS. Al-Anfāl: 61)

 

Ayat ini turun dalam konteks konflik, namun Allah justru memerintahkan Nabi untuk mengutamakan perdamaian.

 

 

Hadirin, Rokhimakumullah

 Berikut ini saya sampaikan Contoh Nyata Sejarah Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian:

1. Piagam Madinah: Perdamaian Multikultural

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau tidak membangun negara dengan pedang, tetapi dengan konstitusi perdamaian, yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

 

Isinya antara lain:

  • Muslim, Yahudi, dan kabilah lain hidup berdampingan
  • Setiap kelompok dijamin kebebasan beragama
  • Konflik diselesaikan dengan hukum, bukan balas dendam

 

Ini menunjukkan Rasulullah adalah negarawan perdamaian, jauh sebelum konsep HAM modern lahir .

 

2. Perjanjian Hudaibiyah: Mengalah demi Perdamaian

Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah :

·       Rela menghapus gelar “Rasulullah” dari dokumen

·       Menerima syarat yang tampak merugikan umat Islam


Namun Allah menurunkan firman:


إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Sesungguhnya Kami telah memberimu kemenangan

 yang nyata.”
(QS. Al-Fath: 1)

 


hikmahnya ?

Secara ilmiah dan strategis, perdamaian justru membuka ruang dakwah luas dan menghindari pertumpahan darah.

Pepatah Jawa menyatakan : “Wani Ngalah , Luhur Wekasane “ (Berani mengalah sebagai strategi, maka akan sukses jaya akhirnya)

 

Hadirin , Rokhimakumullah

Bukti Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian, yang ke 3 adalah :

Fathu Makkah( Rasulullah berhasil menaklukkan Kota Mekah ).

Saat itu, Rasulullah berkesempatan balas dendam untuk menghancurkan penduduk Mekah yang dulu memusuhi Rasul. Masyarakat Mekah sudah tak berdaya. Tetapi Rasulullah memilih untuk Memaafkan di Puncak Kemenangan. Rasulullah memilih Perdamaian Abadi , daripada Pamer Kekuasaan.

Saat Fathu Makkah, Rasulullah memiliki kekuatan penuh untuk membalas dendam. Namun beliau berkata:

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
“Pergilah, kalian semua bebas.”
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi,)

 

Inilah puncak perdamaian profetik:

menang tanpa menindas, berkuasa tanpa membalas dendam.

 

Hadirin Rohimakumullah

Berikut Adalah Hadis Sahih: Rasulullah Pembawa Damai

Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat

 dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dan beliau juga bersabda:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim)

Salam bukan sekadar ucapan, tetapi deklarasi sosial perdamaian.

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Hikmah dari Rasulullah sebagai Aktor Perdamaian antara lain :

1.    Perdamaian lebih kuat daripada kekerasan

2.    Mengalah demi maslahat ,itu lebih mulia daripada menang dengan dendam

3.    Dakwah yang efektif ,lahir dari keteladanan, bukan paksaan

4.    Kekuatan sejati adalah kemampuan memaafkan

 

 

 

Hadirin Rohimakumullah

Rasulullah Sebagai Aktor Perdamaian , membawa Pesan Moral untuk Kehidupan Kekinian , agar kita :

  1. Jangan mudah mengkafirkan, memusuhi, dan membenci
  2. Utamakan dialog daripada konflik
  3. Jadilah penyejuk di tengah panasnya perbedaan
  4. Tampilkan Islam sebagai rahmat, bukan ancaman

 

SIMPULAN

Rasulullah Adalah Aktor Perdamaian Sejati:

  • Dalam dakwah → penuh hikmah
  • Dalam politik → menjunjung dialog
  • Dalam kemenangan → mengedepankan maaf
  • Dalam kehidupan sosial → menebar keselamatan
  • Islam hadir bukan untuk merusak, tetapi menata peradaban dengan damai.

 

SARAN

1.    Jadikan Rasulullah sebagai teladan dalam menyikapi konflik

2.    Dakwahkan Islam dengan akhlak dan keteladanan

3.    Bangun budaya damai di keluarga, masyarakat, dan media sosial

4.    Jangan lelah menjadi pembawa rahmat di tengah dunia yang gaduh

 

PENUTUP

Semoga Allah menjadikan kita umat yang meneladani Rasulullah sebagai duta perdamaian, bukan penyulut perpecahan.

 

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

 


Selasa, 03 Februari 2026

Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

 

Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Mukadimah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang telah menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan, pembeda antara kebenaran dan kesesatan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muḥammad
, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin rahimakumullāh,
Tema pengajian kita kali ini adalah “Pahala Mencari Ilmu dan Berdakwah”, sebuah tema yang sangat fundamental dalam Islam, karena agama ini berdiri di atas ilmu dan disebarkan dengan dakwah.


1. Kedudukan Ilmu dalam Islam

Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah shalat atau puasa, melainkan perintah membaca dan belajar.

Allah Ta‘ālā berfirman:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)

Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi seluruh amal. Tanpa ilmu, ibadah bisa salah arah, dan dakwah bisa menyesatkan.

Allah juga berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa iman yang disertai ilmu akan melahirkan kemuliaan di sisi Allah.


2. Pahala Mencari Ilmu Menurut Hadis Sahih

Rasulullah menjelaskan secara tegas tentang keutamaan mencari ilmu.

Beliau bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap langkah mencari ilmu bernilai ibadah dan menjadi sebab dimudahkannya jalan ke surga.

Bahkan, Rasulullah menyamakan kedudukan penuntut ilmu dengan makhluk-makhluk Allah lainnya:

“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, sahih)

Secara ilmiah dan spiritual, ini menunjukkan bahwa aktivitas intelektual dalam Islam memiliki nilai transendental, bukan sekadar akademik.


3. Ilmu Harus Diamalkan dan Didakwahkan

Hadirin rahimakumullāh,
Ilmu dalam Islam bukan untuk disimpan, tetapi untuk diamalkan dan disampaikan. Inilah hakikat dakwah.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحًا
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh?”
(QS. Fuṣṣilat: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah yang paling efektif adalah dakwah yang berbasis ilmu dan amal.

Rasulullah bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun satu ayat.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban dakwah sesuai kapasitas ilmunya.


4. Pahala Dakwah: Mengalir Tanpa Putus

Keutamaan dakwah bukan hanya pada saat dilakukan, tetapi pahalanya terus mengalir.

Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim)

Lebih dari itu, dakwah termasuk amal jariyah. Rasulullah bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Ilmu yang diajarkan dan dakwah yang dilakukan akan terus menjadi pahala meskipun kita telah wafat.


5. Analisis Ilmiah dan Kontekstual

Secara ilmiah, masyarakat yang berilmu dan aktif berdakwah akan:

  1. Memiliki daya kritis terhadap kebatilan
  2. Mampu membangun peradaban beretika
  3. Menekan penyimpangan moral dan sosial

Inilah sebabnya Islam memadukan ilmu (knowledge) dan dakwah (transmission of values) sebagai pilar kebangkitan umat.


SIMPULAN

  1. Mencari ilmu adalah ibadah utama yang membuka jalan menuju surga.
  2. Ilmu dalam Islam harus diamalkan dan didakwahkan, bukan sekadar diketahui.
  3. Dakwah berbasis ilmu memiliki pahala besar dan berkelanjutan.
  4. Ilmu dan dakwah merupakan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir hayat.

SARAN

  1. Jadikan menuntut ilmu sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban formal.
  2. Sampaikan ilmu dengan hikmah, akhlak, dan keteladanan, sesuai QS. An-Naḥl: 125.
  3. Mulailah dakwah dari hal yang sederhana: keluarga, lingkungan, dan media yang positif.
  4. Perkuat niat bahwa mencari ilmu dan berdakwah semata-mata mengharap ridha Allah, bukan popularitas.

Penutup

Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli ilmu yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, serta mengalirkan pahala kepada kita hingga hari kiamat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
والله أعلم بالصواب


SUMBER : CHAR GBT